Kumpulan puisi Cinta Pendek Sedih Menyayat Hati
Kumpulan puisi Cinta Pendek Sedih Menyayat Hati !!! Cinta Itu Indah, cinta itu perih, cinta itu sadis. Cinta itu berjuta rasanya banyak orang menjadi gila karena cinta, tapi sebagai manusia kita tidak bisa menampik kalau sangat membutuhkan cinta. Hayoo siapa ni yang lagi sedih karena cinta ?
Cinta adalah topik yang paling banyak dipilih oleh seorang penyair untuk membuat puisi. Seperti kita tahu bahwa puisi lahir dari sebuah interpretasi keadaan hati seorang penyair.
Sebagai seorang pecinta puisi, Mimin tidak menyukai puisi yang terlalu panjang dengan berbagai macam alasan, entah karena capek membaca atau pusing lihat terlalu banyak kata. Tapi jangan khawatir untuk kamu yang sama dengan mimin. Pada kali ini mimin akan membagikan kumpulan puisi cinta pendek sedih yang mimin kumpulkan dari blog ini, tentunya untuk kamu yang suka puisi cinta pendek. Selamat membaca...
Baca Juga :
- Kumpulan Puisi Cinta Pendek Romantis, Menyentuh Hati Dan Perasaan
- Kumpulan Puisi Wira Nagara Yang Akan Bikin Kamu Baper
Puisi Cinta Pendek Sedih Menyayat Hati

Oleh: Pujanggabajingan
Kau yang menyapaku pertama kali
Tapi kau pula yang memaksaku untuk melupakan
Saat namamu tak ada lagi di hatiku
Saat itu pula hatiku menjadi kosong
Pikiranku muram
Jiwaku suram
Tak ada yang dapat kulakukan
Karena aku tak mampu membaca arah
Atau pun menyuarakan rasa
Laksana Gelombang
Oleh: Pujanggabajingan
Kamu laksana gelombang
Yang datang ketika ku diam
Dan pergi ketika ku kejar
Menyebalkan memang
Ketika ku mulai mencinta
Ada saja alasan untuk menjauh
Naif
Oleh: Pujanggabajingan
Telalu naif
Berusaha tegar
Selepasmu pergi
Airmata pun mengalir basahi pipi
Tanpa Henti
Entahlah...
walau hati remuk
Di tindih rindu yang mengamuk
Tetap sabar dan tak mengutuk
Sikapmu yang pergi tanpa berembuk
Rehat
Oleh: Pujanggabajingan
Rasa lelah mulai menerpa
Seiring jalan yang ku telusuri semakin curam
kamu memang puncak yang sulit ku taklukan
Sikapmu yang tak terarah
Buatku hilang arah
Membingungkan langkah
Hatimu membatu
Hatiku menggerutu
Ingin rehat melepas pilu
Karenamu yang semakin mengganggu
Maaf
Ingin rehat melepas pilu
Karenamu yang semakin mengganggu
Maaf
Berkualisi
Oleh: Pujanggabajingan
Biarlah rindu dan sepi ku nikmati sendiri,
Setelah kita sepakat untuk tidak lagi berkualisi,
Mukin karena tujuan kita tak sejalan lagi,
Atau mungkin ada yang menghalangi
Entahlah...
Setidaknya semesta tahu
Setidaknya semesta tahu
Aku pernah menjadi pembalut rindumu,
Penghapus sepimu,
Memang musim berganti angin berubah
Segala janji yang kau ucapkan dulu, kini telah berubah
Pergi Selamanya
Oleh: Pujanggabajingan
Gemuruh ombak batin tak menentu
Karena tanganmu lepas dari genggamanku
Aku merasa kehilangan harapan dan daya untuk berfikir
perjalanan hidup seolah benar-benar telah berkhir
Kata orang hidup itu penuh cobaan
Namun kehilanganmu adalah kiamat
Kini hidup akan terasa hambar
Kurang kamu yang pergi untuk selamanya
Pada Jarak
Oleh Pujanggabajingan
Aku mengalah pada jarak
Yang begitu menyebalkan di antara kita
Bukan karena langkahmu ataupun langkahku,
Tapi karena langkah kita yang semakin jauh menapak
Kita tak pernah lagi saling menatap
Kita tak pernah lagi saling berharap
Kita kini hanya sebatas cerita masa lalu
Dan rindu tak lagi terlintas di banakku
Tiada lagi mata yang selalu ku rindu untuk di pandangi
Tiada lagi tawa yang selalu menggemaskan di wajah mu
Tiada lagi kata yang membuat ku melayang setiap kali ku dengar
Gerbang Persimpangan
Oleh: Pujanggabajingan
Di gerbang persimpangan kita memantapkan hati
Berjanji bertemu kembali
Dengan tiang-tiangnya jadi saksi
Berikrar sehidup semati
Sampai waktu yang paling ku takutkan menghampiri
Kau memilih untuk pergi kelain hati
Seperti dia yang berdiri kokoh
Menyambut setiap yang datang
Aku selalu menunggumu pulang
Seperti dia yang berdiri gagah
Ikhlas mengantar setiap yang pergi
Aku selalu ada untukmu kembali
Jangan Seperti Mentari
Oleh: Pujanggabajingan
Jangan seperti Mentari,
Mengecewakan
Hmm mengapa?
Dia suka sekali menebar cerah
Ujung-ujungnya pergi dan tenggelam
Disaat aku menggigil karena sepi, kamu datang menawarkan hangatnya pelukan,
Belum lagi lama ku rasakan
Kamu sudah menghilang dan kembali menitipkan aku kesendirian
Hati Berdarah
Oleh: Pujanggabajingan
Langit sudah tampak mendung lebih dari abu-abu,
Bahkan sudah hitam pekat
Mungkin sebentar lagi akan hujan
Atau lebih dari sekedar hujan
Bisa jadi badai...
Hati sudah mulai berdarah parah tak terawat,
Bahkan sudah mulai membusuk
Mungkin sebentar lagi akan di kerumuni belatung
Bisa jadi juga ular...
Untuk Bunga Yang Ku Puji
Oleh: Pujanggabajingan
Teruntuk kamu...
Bunga yang selalu ku puji
Senyummu telah pergi
Suaramu tak ku dengar lagi
Bayangmu pun hilang tak kembali
Kini aku memuja sepi
Menikmati kenangan yang kau beri
Tenggelam dalam janji suci
Yang nyatanya hanya sebatas kata tak berarti
Bunga yang selalu ku puji
Senyummu telah pergi
Suaramu tak ku dengar lagi
Bayangmu pun hilang tak kembali
Kini aku memuja sepi
Menikmati kenangan yang kau beri
Tenggelam dalam janji suci
Yang nyatanya hanya sebatas kata tak berarti
Mencoba
Oleh: Pujanggabajingan
Oleh: Pujanggabajingan
Aku akan mencoba, berajak dari sepi
Membuka kembali lembaran baru
Menerima segala keadaan
Dan melupakan segala kenangan
Aku akan mencoba, membujuk hati
Untuk kembali menerima
Berbaik sangka pada perasaan
Yang mungkin akan datang
Aku akan mencoba...
Memohon Diri
Oleh: Pujanggabajingan
Oleh: Pujanggabajingan
Izinkan aku memohon diri
Untuk pamit padamu, yang terus menerus menggores luka
Izinkan aku memohon diri
Untuk pergi darimu, yang terus menerus menghadirkan duka
Aku mulai menggigil sakit karena sikapmu yang mati rasa
Menggapku patung dan enggan menyentuhku
Aku mulai tersadar cintamu bukan untukku sepenuhnya
Terbagi dengannya, cinta masa lalumu
Izinkan aku memohon diri...
Menepi
Oleh: Pujanggabajingan
Oleh: Pujanggabajingan
Sepertinya aku harus menepi sejenak
Dari segala hal tentangmu
Yang membuatku lelah
Setidaknya untuk menghela nafas
Sampai aku tahu
Seberapa banyak kebohongan
Yang kau katakan padaku
Tentang rasamu
Tak Ingin Diganggu
Oleh: Pujanggabajingan
Oleh: Pujanggabajingan
Hatiku sedang tak ingin diganggu
Menyingkirlah, jangan menyentuhnya
Lukanya belum lagi kering
Setelah kau siram dengan air keras tempo hari
Hatiku sedang tak ingin diganggu
Menjauhlah, jangan tampakkan rautmu
Dindingnya masih lagi melepuh
Setelah terbakar api cemburu
Bagaimana perasaanmu sudah tercabik-cabik dengan membaca puisi cinta pendek sedih menyayat hati yang mimin bagikan, ? Semoga puisi di atas dapat mewakili perasaan kamu, jika kamu ingin mengutip puisi di atas silahkan, namun dengan syarat melampirkan sumbernya ya... Sampai jumpa di kumpulan puisi lainnya.
Posting Komentar untuk "Kumpulan puisi Cinta Pendek Sedih Menyayat Hati"